Bab 9 NAIMITIKA UPĀSANA MANTRA
Bab 9 NAIMITIKA UPĀSANA MANTRA
Di tengah kehidupan masyarakat Hindu yang berakar kuat, terdapat kekayaan pelaksanaan berdoa yang tidak hanya berpusat di pura atau dipimpin oleh para pemangku dan pendeta semata, melainkan juga tumbuh dan mewujud di lingkungan yang paling dekat dengan hati, yaitu di dalam lingkungan keluarga sendiri. Ada banyak yajña, atau pengorbanan suci dan persembahan tulus, yang secara turun-temurun dilaksanakan oleh warga masyarakat pada saat-saat tertentu yang disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan hidup seseorang maupun keluarga. Dalam pelaksanaannya, upakara yang disusun dan dihaturkan pada yajña-yajña ini dikerjakan sendiri oleh para anggota keluarga, tanpa menunggu tuntunan langsung dari seorang Pemangku atau Pendeta. Hal ini menunjukkan bahwa kesucian dan keterhubungan manusia dengan Yang Maha Agung tidak terbatas pada dinding tempat sembahyang maupun jabatan pemimpin agama; setiap orang yang berniat tulus, bersih hatinya, dan ingin mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta para Dewata dan leluhur, dapat melaksanakan persembahan suci itu dari rumahnya sendiri, dengan tangannya sendiri.
Kehadiran yajña yang dapat dikerjakan secara mandiri ini memiliki makna yang sangat dalam, karena menjadikan rumah sekaligus keluarga itu sendiri sebagai pelaksana sekaligus pusat kesucian. Setiap kali ada peristiwa penting—baik saat kelahiran, Otonan, momen pertumbuhan, maupun peringatan-peringatan lain yang mengandung makna syukur—keluarga dapat menyusun banten, melafalkan doa, dan mempersembahkan segala sesuatu yang tulus dari hati. Tidak ada jarak yang memisahkan antara niat dan pelaksanaan, karena kesadaran akan kehadiran Tuhan ada di dalam diri setiap orang, bukan hanya di tempat yang dianggap suci oleh orang lain. Dengan demikian, setiap anggota keluarga perlahan-lahan tumbuh dalam kesadaran spiritual, belajar memahami makna setiap benda yang dipersembahkan, makna setiap kata yang diucapkan, serta makna setiap sikap yang ditunjukkan saat melaksanakan bhakti.
Tentu saja, dalam pelaksanaannya terdapat berbagai macam yajña yang disesuaikan dengan tujuan dan peristiwa yang dirayakan, lengkap dengan mantra-mantra atau doa-doa yang biasa dipergunakan untuk mengiringi persembahan tersebut. Doa-doa ini menjadi jembatan yang menghubungkan niat batin dengan ungkapan lahiriah, mengubah bahan-bahan sederhana—bunga, air, dupa, makanan—menjadi persembahan yang bermakna luhur. Melalui kata-kata yang diucapkan dengan tulus dan penuh penghayatan, yang tadinya sekadar benda menjadi sarana ungkapan syukur, permohonan, sekaligus kesadaran akan kebesaran dan kehadiran Tuhan yang mengatur segala kehidupan.
Inilah bentuk Bhakti yang hidup, yang mengalir dari generasi ke generasi, menanamkan pemahaman bahwa agama bukanlah sesuatu yang hanya dipelajari atau dilaksanakan di tempat yang jauh, melainkan sesuatu yang dijalani sehari-hari, di dalam rumah, di tengah keluarga. Setiap kali seseorang menyusun banten, melafalkan doa, dan mempersembahkannya dengan tulus tanpa harus menunggu diatur oleh orang lain, ia sedang membangun kesadaran bahwa ia adalah bagian dari semesta yang lebih besar, sekaligus utusan dan hamba yang berbakti kepada Yang Maha Agung. Kebebasan untuk melaksanakan kebaktian sendiri ini bukan berarti sembarangan atau tanpa pedoman; justru sebaliknya, ia mendorong setiap orang untuk semakin mendalami makna di balik setiap upacara, semakin menghayati setiap kata yang diucapkan, dan semakin bertanggung jawab atas kesucian niat serta perbuatannya sendiri.
Dengan demikian, upakara yang dikerjakan sendiri di rumah menjadi cermin bahwa kebenaran dan kesucian itu dekat, dapat dijangkau, dan dimiliki oleh setiap orang yang berniat baik. Tidak ada sekat yang memisahkan antara manusia dan Tuhan, antara yang biasa dan yang suci, antara diri sendiri dan sesama. Semua dapat menyatu dalam bakti yang tulus, dalam doa yang diucapkan dengan penuh rasa hormat dan kasih, serta dalam kehidupan yang dijalani dengan penuh kesadaran bahwa setiap langkah, setiap ucapan, dan setiap persembahan adalah wujud penghormatan kepada Sang Pencipta yang senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih-Nya kepada seluruh makhluk.
YAJÑA BERSIFAT INSIDENTAL
1. Pada Saat Otonan (Dengan Banten Sesayut)
a. Ma-bya Kala / Bya Kaon
- Doa :
Om Sang Bhūta Nampik Lara, Sang Bhūta Nampik Rogha, Sang Bhūta Nampik Mala, Undurākna Lara Rogha Wighnanya Manusanya
Om Sidhirastu Ya Namah Swaha
b. Ma-tepung tawar
- Doa :
Om Pūrṇa Candra, Pūrṇa Bāyu, Mangka Pūrṇanya Manuṣa Maring Mercapada,
Kadi Langgenganing Sūrya Candra, Mang-kana Langgenganipun Manusanya.
Om Sidhirastu Ya Namah Swaha
c. Masesarik
- Kening, Om Śrī Śrī Ya Namah Swaha
Bahu Kanan, Om Anengenaken Phala Bhogya namah swaha.
Bahu Kiri,
TengkukOm Angiwakaken Pañca Bhaya lara Rogaya namah swaha.
Telapak Tangan, Om Angilangaken Sot Papaning wong ya namah swaha.
- Dada : Om Anganti-ati Sabda Rahayu.
d. Matetebus Benang
- Doa :
Om Anggabusi Bāyu Pramāṇa Maring Aṅga Śarīra.
e. Natab Sesayut
Ada 2 sesayut yang biasa dipergunakan pada saat otonan sederhana, diantaranya:
1. Sesayut Bāyu Rauh Sai
- Doa :
Om Ang Sang Hyang Jagat Wisesa, Metu Sira Maring Bāyu, Alungguh Maring Bungkahing Adnyanasandi
2. Sesayut Pangenteg Bāyu
- Doa :
Om Dananjaya Bāyu Krettam Dasa AtMa Dasa Premanan Sarwa Aṅga Masariram. Whibhuh Bhuvanam Dewa Atmakan
(Natab ke badan)
Om Om Śrī Paduka Guru Ya Namah Swaha.
Doa : Om Ung Sang Hyang Antara Wisesa, Metu Sira Maring Sabda, Alungguh Maring Madyaning Adnyana Sandi
(Natab ke mulut)
- Doa :
Om Mang Sang Hyang Adnyan Wisesa, Metu Sira Maring Idep, Alungguh Maring Tungtunging Adnyana Sandi
Om Om Śrī Paduka Guru Ya Namah Swaha
Makna:
Memohon kekuatan Bāyu, Sabda, Idep (Perbuatan, Perkataan dan Pikiran), agar dapat memberikan dukungan kekuatan dalam mengarungi kehidupan ini, dengan penuh kesucian.
Makna:
Memohon agar Bāyu, Sabda, Idep (unsur panas, Air, udara dalam tubuh) kita senantiasa dalam keadaan seimbang.
Komentar