Bab 11 PUJA TRISANDHYA

Bab 11 PUJA TRISANDHYA
 
Puja Trisandhya, sebagaimana tersirat dari namanya, secara harfiah diartikan sebagai persembahyangan sekaligus jalinan hubungan batin yang terus-menerus terpelihara dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Menyeluruh, yang dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam satu hari. Tiga waktu ini bukan sekadar pembagian jam di atas permukaan bumi, melainkan momen-momen suci di mana alam dan diri manusia bergetar selaras dengan ritme semesta: saat fajar menyingsing ketika matahari baru terbit, tengah hari ketika cahaya berada di puncaknya, dan senja ketika cahaya perlahan berpulang untuk memberi ruang kepada kegelapan. Pada ketiga saat inilah jiwa diingatkan untuk kembali pulang, berhenti sejenak dari segala urusan dunia, dan mengarahkan pandangannya kepada Yang Maha Sumber dari segala cahaya dan kehidupan.
 
Tidak ada paksaan dalam pelaksanaannya, melainkan kesadaran yang tumbuh dari keinginan tulus untuk dekat dengan Yang Maha Hadir. Puja Trisandhya menjadi jembatan yang menghubungkan kehidupan lahiriah yang sibuk dengan kehidupan batiniah yang sunyi; ia mengajarkan bahwa di tengah segala kesibukan, selalu ada waktu untuk berhenti, bersyukur, dan menyadari kehadiran Tuhan yang senantiasa menyertai setiap langkah. Setiap kali diucapkan, doa ini menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian, bahwa napas yang dihembuskan, kekuatan yang dimiliki, dan kesempatan yang diberikan semuanya adalah anugerah yang tak terhitung nilainya.
 
Dalam pelaksanaannya, Puja Trisandhya bukan sekadar mengucapkan rangkaian kata, melainkan menata kembali keseluruhan diri—dari sikap tubuh, ketenangan napas, kemurnian tangan, kebersihan mulut, hingga ketulusan hati—sehingga menjadi wadah yang layak untuk menerima kedatangan kesadaran suci. Mulai dari duduk yang tenang, mengatur napas agar seirama dengan ketenangan jiwa, membersihkan anggota tubuh dari segala noda lahir dan batin, hingga menyatukan pikiran dalam keheningan, semuanya dilakukan dengan niat tulus agar persembahan yang dipersembahkan murni dan berkenan di hadapan Ida Sang Hyang Widhi.
 
Melalui mantra-mantra yang diwariskan turun-temurun, hati diajarkan untuk memuja, memohon, memohon ampun, dan akhirnya meleburkan diri dalam kedamaian sejati. Setiap bait yang diucapkan mengandung makna yang mendalam: ada pengakuan akan kebesaran-Nya, ada permohonan agar hati diberi cahaya, ada kesadaran bahwa segala yang ada di alam semesta ini hanyalah perwujudan dari-Nya, ada permohonan perlindungan, ada pengakuan atas kekhilafan diri, dan di akhir mantra ada penyerahan diri sepenuhnya dalam kedamaian yang tak tergoyahkan.
 
Demikianlah Puja Trisandhya menjadi pelita yang dinyalakan tiga kali setiap hari, agar di manapun berada, sesibuk apapun keadaan hidup, hati selalu memiliki jalan pulang menuju kedamaian, selalu memiliki tempat untuk menyandarkan segala harap dan cemas, dan selalu ingat bahwa di atas segala yang tampak, ada Yang Maha Agung yang senantiasa melindungi, mengasihi, dan menuntun makhluk-Nya kembali kepada cahaya yang abadi.
 
1. Āsana
 
Dilakukan pengambilan sikap sembahyang yang sempurna berupa:
 
- PADMĀSANA untuk Pria
- BAJRĀSANA untuk Wanita
- Mantra : Oṁ Prasada sthiti Śarīra Śiwa Suci Nirmala Ya Namaḥ Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Śiwa, suci tak ternodai, hamba telah duduk dengan tenang.
 
2. Prāṇāyāma
 
Dilakukan pengaturan pernafasan dengan tenang, menghirup maupun menghembuskan nafas, disertai mantra sebagai berikut:
 
- PŪRAKA — Menghirup Nafas
- Mantra : Oṁ Aṅg Namaḥ
- KUMBHAKA — Menahan Nafas
- Mantra : Oṁ Uṅg Namaḥ
- RECAKA — Menghembuskan Nafas
- Mantra : Oṁ Maṅg Namaḥ
 
 3. Kara Śuddhaṇa
 
- Tangan Kanan di atas Tangan Kiri
- Mantra : Oṁ Śuddha Mam Swaha
- Arti : Ya Tuhan, sucikanlah hamba.
- Tangan Kiri di atas Tangan Kanan
- Mantra : Oṁ Ati Śuddha Mam Swaha
- Arti : Ya Tuhan, sucikanlah hamba sepenuhnya.
 
 4. Waktra Śuddha
 
- Mulut dibersihkan dengan mantra
- Mantra : Oṁ WAKTRA ŚUDDHA YA NAMAḤ
- Arti : Ya Tuhan, sucikanlah mulut hamba dari perkataan yang penuh noda.
 
5. Karṇa Śuddha
 
- Telinga dibersihkan dengan mantra
- Mantra : Oṁ Karṇa Śuddha Ya Namaḥ
- Arti : Ya Tuhan, sucikanlah telinga hamba dari pendengaran yang ternoda.
 
Setelah persiapan untuk melakukan Puja Trisandhya selesai, ada baiknya dilakukan hening selama beberapa menit, agar tercapai keadaan yang benar-benar rileks, tanpa beban. Pada saat tubuh seolah-olah tak terasa lagi, disertai sensasi ringan pada tubuh, Puja Trisandhya dapat dimulai.
 
6. Puja Trisandhya
 
I. Bait Kesatu
 
- Mantra :
Oṁ, Oṁ om Bhūr Bhuvaḥ Swah
Tat Savitur Vareṇyaṁ
Bhargo Devasya Dhīmahi
Dhīyo Yo Nah Pracodayāt
- Arti :
Oṁ, adalah Bhūr, Bhuvaḥ, Swah, kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sang Hyang Widhi, semoga Ia berikan semangat pikiran kita.
 
II. Bait Kedua
 
- Mantra :
Oṁ, Nārāyaṇa Evedaṁ Sarvaṁ,
Yadbhūtaṁ Yac Ca Bhavyam
Niṣkalaṅko Nirañjano Nirvikalpo
Nirākhyātaḥ Śuddho Deva Eko
Nārāyaṇo Na Dvitīyo Asti Kaścit
 
lll bait ketiga 
Mantra: om twam siwah twam mahadewah. 
Iswarah parameswarah
Brahma, wisnu ca rudrasca
Purusah parikir kirtah

lV bait keempat 
Mantra: om papa ham papa karmaham
Papatma papasambawah
Trahimam pundarikaksah
Sabahya byantara suci

V. Bait Kelima
 
- Mantra :
Oṁ Kṣama Sva Māṁ Mahādevaḥ,
Sarva Prāṇī Hitāṅkaraḥ
Māṁ Moca Sarva Pāpebhyaḥ
Pālaya Sva Śuddha Śiwa
- Arti :
Oṁ, ampunilah hamba Sang Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk hidup, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi.
 
VI. Bait Keenam
 
- Mantra :
Oṁ Kṣantavyaḥ Kayiko Doṣāḥ,
Kṣantavyo Vāciko Mama
Kṣantavyo Mānasa Doṣāḥ
Tat Pramādāt Kṣama Sva Māṁ
- Arti :
Oṁ, ampunilah dosa perbuatan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
 
VII. Penutup
 
- Mantra : Oṁ, Śāntiḥ, Śāntiḥ, Śāntiḥ Oṁ
- Arti : Oṁ, Damai, Damai, Damai, Oṁ.
 
 
 

Komentar